Showing posts with label Artikel Guru. Show all posts
Showing posts with label Artikel Guru. Show all posts

Saturday, September 14, 2024

Menggembirakan Pelajaran Sejarah

Mata pelajaran sejarah agaknya kurang digemari oleh kebanyakan siswa. Karakter pelajaran yang berisi peristiwa, nama tokoh, tempat, angka, tahun jadi sebab pelajaran disangka jlimet. Tak jarang, oleh siswa sejarah dianggap serumpun dengan pelajaran ‘berat’ lain. Seperti matematika, geografi, kimia, fisika dan biologi.

Padahal terang mata pelajaran sejarah adalah pelajaran penting. Bung Karno, Presiden pertama negri ini dalam perayaan HUT RI ke-21 pada 17 agustus 1966 mewanti semboyan ‘jas merah’. Jangan sekalipun melupakan sejarah. Dengan sejarah, seorang dapat memahami jati diri bangsanya. Menghargai jasa pahlawan. Juga memetik suri teladan para pendiri bangsa. Melihat manfaat ini, keberadaan pelajaran sejarah dalam kurikulum tentu amat berharga.

Tujuan mempelajari sejarah tentu tak mandeg pada sekedar tahu dan paham. Lebih itu, lewat sejarah sejarah kita diharap mampu mengambil ibrah atau pembelajaran dari masa sebelumnya. Bagaimana cara orang terdahulu meraih kejayaan. Mengapa pula tak sedikit dari mereka yang mengalami gagal dan kemunduran. Semua dipelajari agar terambil hikmah untuk menghadapi tantangan kehidupan masa kini.

Kurang menariknya pelajaran sejarah di mata siswa adalah pekerjaan rumah bagi guru sebagai pengampu pembelajaran. Materi sejarah adalah fakta. Tak lagi bisa diubah. Bagian yang dapat diusahakan adalah menyajikan kemasan sejarah semenarik mungkin.

Selaiknya, guru mencari metode terbaik agar pembelajaran sejarah mampu menggembirakan siswa. Dari sinilah. Berikut ini beberapa metode sederhana pembelajaran sejarah, yang sedikit banyak pernah disajikan penulis ke tengah anak-anak. Berdasar praktek lapangan, di tempat Khidmah penulis, MI Ma’arif Klesman Wonosobo.

Tembang Sejarah

Metode tembang atau bernyanyi merupakan metode pembelajaran yang menggunakan syair-syair dalam pembelajaran. Syair yang digunakan disesuaikan dengan materi yang diajarkan oleh guru. Disebutkan sementara ahli pendidikan, metode menyanyi terbilang efektif. Sebab setidaknya mengandung tiga ranah yakni emosi, nada dan gerak. Dari sini menyanyi adalah hal mengembirakan bagi siapa saja.

Di MI Ma’arif Klesman Wonosobo, penulis mencoba membuat tembang mata pelajaran sejarah kebudayaan islam untuk kelas 4,5 dan 6. Hasilnya cukup menggembirakan. Tembang ini membuat siswa jatuh hati pada pembelajaran sejarah. Mereka bernyanyi. Bahkan tak sedikit dari mereka yang hafal. Mereka hafal dengan karena rasa suka. Bukan atas tuntutan guru.

Biasanya tembang dibaca pada awal dan akhir pembelajaran. Siswa dengan kompak membaca tembang. Membaca tembang sejarah sebelum memulai pembelajaran termasuk apersepsi menyenangkan. Karena berbentuk lagu, siswa riang dalam mengingat pembelajaran sebelumnya. Sebagai variasi, guru dapat membagi kelas dalam 2 kelompok. Lagu dibaca secara sambung menyambung antar kelompok. Atau guru versus siswa saling sambung.

Kelas jadi semarak kala pembelajaran sejarah berlangsung. Siswa dengan semangat menyanyi lagu sejarah, mulai dari sifat wajib rosul, hijrah Habasyah, Hijrah Thaif, Hijrah Yastrib, Isra’ Mikraj dan lagu lainnya.

Berikut 2 diantara lagu itu . . .

Hijrah ke Habasyah

Lagu : naik delman

Hijrah artinya pindah, pertama ke Habasyah
Rajab 5 kenabian, dua kali hijrah
Hijrah pertama pimpinannya sahabat Ustman
Sepuluh (10) laki-laki dan lima (5) perempuan
#
Hijrah kedua dipimpin sahabat Ja’far
Dlapan tiga (83) pira 18 perempuan
##
Hijrah ke Habasyah, lewati Shuaibah
Nama pelabuhan yang ada di kota Makkah
Najasyi, nama rajanya negeri Habasyah
Raja adil bijaksana sangat berwibawa

Hijrah ke Yastrib
lagu : delman

Yastrib kota Madinah
Subur sekali tanahnya
Pusatnya pertanian
Dan juga perdagangan
##
Dua suku disana
Perang lama waktunya
Aus.. Khazraj
Lalu damai akhirnya
##
Tiga suku Yahudi
Suka mengadu domba
Qainuqa, Quraidzah
Juga Nadhir sukunya
##
Rasul hijrah ke Yastrib
Damaikan Aus Khazraj
Allah… Allah…
Yastrib damai harmoni (tentram)
##
Rasul tiba di Yastrib
Bulan Rabiul Awal
Tanggalnya enam belas
Tahun 1 hijriyah
##
Tibanya Rasulullah
Disambut suka cita
Thala’al badru
Badru ‘alainaa…

Peta Pikiran
Peta pikiran atau mind mapping adalah metode cepat untuk mengingat materi sejarah. Lewat peta pikiran, siswa dapat mempelajari materi sejarah dengan sistematis dan runtut. Agar lebih menyenangkan siswa dibebaskan mengeluarkan kreasi dalam membuat peta pikiran. Kreasi mindmapping dapat berbentuk gambar, hingga coretan warna-warni.

Watching Film
Menonton film tentu hal yang asyik. Lewat menonton siswa tak hanya belajar secara auditori, tapi visual. Terlebih jika alur film yang ditonton menarik, waktu berjam tak terasa berjalan.

Dalam pembelajaran sejarah, kita dapat memanfaatkan media film sebagai teman belajar siswa. Tentunya, film yang kita hadirkan sesuai dengan materi yang sedang dipelajari. Kita bisa mencari film lewat media seperti youtube atau kanal video lainnya. Disana berderet film yang dapat dipilih. Sebelum kegiatan menonton mulai, guru memberi arahan. Sinopsis singkat isi film, tujuan menonton, hingga tugas yang dikerjakan selama film berlangsung. Arahan ini penting agar siswa fokus sepanjang kegiatan.

Tanya jawab berantai

Tanya jawab berantai masuk kegiatan apersepsi. Maka bahan pertanyaan ini berasal dari materi yang sudah dikuasi siswa. Usai guru mengucap dan memberi motivasi, tanya jawab berantai bisa dilangsunkan. Guru membuka kegiatan dengan melempar pertanyaan.

Nah, disini guru bisa memberi variasi dengan memilih siswa secara acak. Semisal menerbangkan pesawat kertas di kelas. Kepada siapa pesawat itu mendarat. Ia lah yang bertugas menjawab pertanyaan. Jika siswa menjawab benar, ia diperkenankan menerbangkan pesawat dari tempat duduknya. Namun bila jawaban belum tepat, siswa diminta menerbangkan pesawat dari depan kelas.

Kemana pesawat kertas itu kemudian mendarat. Ia lah yang menjadi penjawab dari pertanyaan yang kini dibuat oleh siswa penerbang pesawat. Dan begitu seterusnya, hingga guru merasa cukup.

Kartu Pasangan

Kegiatan kartu pasangan masuk dalam kategori inti pembelajaran. Disini ada proses penguatan materi. Tentu dalam suasana menggembirakan. Kegiatan ini bisa dilakukan usai guru mengajak siswa mempelajari satu materi. Sebagai penguatan, disini kartu pasangan berperan.

Terlebih dahulu guru menyiapkan kartu-kartu. Bisa dalam bentuk kertas warna-warni, agar lebih menarik. Kertas tersebut dipotong kecil sekira dapat memuat tulisan untuk pertanyaan dan jawaban. Satu warna digunakan sebagai kertas pertanyaan. Warna lain sebagai kertas jawaban. Guru membuat kertas tanya jawab ini sejumlah anggota kelas. Kegiatan ini melibatkan seluruh anak dan dilakukan secara out dor semisal di halaman Madrasah.

Metode Sosio Drama

Metode sosio drama adalah metode mengajar yang mendramatisasikan suatu situasi sosial yang mengandung suatu problem, agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah yang muncul dari suatu situasi sosial.

Banyak peristiwa sejarah Islam yang dapat disampaikan lewat metode ini. Semisal peristiwa peletakan kembali hajar aswad ketika Rasulullah Saw berusia 35 tahun. Bagaimana kebijaksanaan Rasul dalam mencegah tersulutnya pertikaian antar kabilah ketika itu. Ajak beberapa siswa untuk ke muka kelas. Siapkan kain, dan minta tiap siswa untuk memegang ujung kain. Beri arahan bagi perwakilan siswa tersebut, sembari guru menutur kisah. Terakhir, sampaikan kesimpulan dari peristiwa yang telah diperagakan tersebut.

Membawa Nilai Luhur Pesantren Ke Madrasah


Oleh : In’am Alfajar, S.Pd.I

Pondok Pesantren lahir di bumi nusantara. Oleh pakar, lembaga pendidikan ini dikatakan memiliki corak asli atau indigenos khas Indonesia. Profesor Azyumardi Azra menyebut Pondok Pesanten sebagai lembaga pendidikan yang tahan terhadap gelombang modernisasi. Hal ini jadi kelebihan tersendiri bagi Pondok Pesantren hingga tetap survive hingga kini.

Menarik, fakta menunjuk tiap tahun Pondok Pesantren terus bertumbuh. Dalam catatan kementrian agama tahun 2020 jumlah Pesantren di tanah air telah capai angka 28.194 buah Pesantren. Tidak kurang 5 juta santri mukim atau bertempat di Pesantren.

Pesantren telah terbukti eksis mengarungi zaman. Gelombang modernisasi di perlbagai bidang kehidupan tak membuat Pondok Pesantren larut dan surut. Pesantren berdiri tegar dengan pijakan nilai yang mengakar kuat.

Kendati demikian, Pesantren tak memilih menepi dari kemajuan zaman. Ia berani bersifat adaptif pada kebaikan zaman. Sebagaimana jargon muhafazah ‘ala qadimis shalih, wal akhdu bil jadidil aslah.

Banyak nilai luhur terkembang di Pondok Pesantern. Tulisan singkat ini mencoba memotret nilai-nilai tersebut. Setidaknya, sependek penglihatan saya saat nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah 2 Brebes. Empat nilai luhur Pesantren ini saya tawarkan untuk dibawa, ditumbuh dan kembangkan pula di Madrasah Ma’arif.

Pertama, Keteladanan. Pondok Pesantren kuat dengan nilai keteladanan. Kyai sebagai figur guru tak henti menjadi teladan. Kyai tak berhenti dengan memberi contoh saat pembelajaran berlangsung. Ia menerapkan hal-hal yang ia ajarkan di kehidupan kesehariannya.

Ketika Kyai mengungkap hadis memuliakan tamu. Santri menyaksikan bagaimana hangatnya sambutan Kyai kala menerima tamunya. Saat Kyai menjelaskan pentingnya ilmu. Santri melihat bagaimana kecintaan gurunya pada ilmu. Demikian seterusnya.

Alhasil, di Pondok Pesantren santri sebagai pelajar tak sekadar dapati teori dari teks. Melainkan belajar langsung dari teladan gurunya. Keteladanan ini telah jadi nafas kehidupan Pondok Pesantren. Bahkan sejak awal berdirinya, berates tahun silam.

Kiranya prinsip keteladanan serupa harus jadi perhatian madrasah ma’arif. Kepala madrasah, guru, staff karyawan kudu sekuat tenaga jadi teladan bagi peserta didik. Dari mulai kedisiplinan, kecintaan ilmu pengetahuan, perhatian pada kebersihan lingkungan, hingga yang paling utama menyoal keteladanan akhlakul karimah.

Kedua, perhatian pada adab. Sejak lama Pondok Pesantren menaruh perhatian soal adab. Jargon adab diatas ilmu nyata berlaku di Pesantren. Kyai dan santri sangat menjunjung tinggi adab. Baik adab pada sesama atau pada diri sendiri. Dari sini tak heran, banyak yang menyebut Pondok Pesantren sebagai benteng moral terakhir.

Sudah saatnya madrasah ma’arif memberi perhatian lebih pada adab. Penerapan adab kudu disetting sedemikian rupa. Lagi-lagi, guru harus tampil terdepan meneladankan.

Ketiga, keselarasan usaha dalam meraih ilmu. Proses Pendidikan Pesantren tak semata mendorong santri untuk tekun belajar. Melainkan juga giat memanjat doa lewat istigatsah, mujahadah hingga riyadah. Ilmu di Pesantren umumnya bisa didapat lewat perpaduan usaha lahir batin. Selain didorong untuk rajin belajar. Pesantren memprogram sedemikian rupa kegiatan untuk mengasah rohani santri.

Qodarullah, perpaduan usaha lahir batin dalam belajar menuai hasil. Selama berkiprah Pondok Pesantren nyata menelurkan alumni yang mewarnai kehidupan bangsa. Santri bisa menjadi apa saja. Anggapan ini telah jadi fakta. Presiden keempat Indonesia tak lain adalah KH Abdurrahman Wahid. Ia seorang santri. Kini, wakil presiden kita pun santri. Sosok itu KH. Ma’aruf Amin.

Membawa nilai ketiga ini ke madrasah tentu menyesuaikan situasi dan keadaan. Madrasah dapat memulai dengan kegiatan sekira memungkinkan. Memaksimalkan proses pembelajaran jelas tak bisa ditawar.

Adapun terkait usaha bathiniah menyesuaikan dengan kemampuan madrasah. Guru, walimurid dan siswa dapat memulai lewat pembacaan doa harian. Mujahadah atau istigatsah mingguan atau mungkin bulanan. Jika masih bisa, madrasah dapat memberlakukan kebijakan puasa sunnah semisal senin dan kami, hari tasyu’a dan arah, dan seterusnya. Segala ikhtiar batin ini diharap dapat mendatangkan ridho Tuhan. Hingga akhirnya, Agar siswa meraih ilmu manfaat setamat madrasah.

Keempat, kesetaraan. Jauh sebelum dunia Pendidikan menggaungkan kesetaraan, Pesantren telah mengaplikasikan konsep ini. Santri putra dan putri memiliki akses setara dalam pembelajaran. Kyai mengajar santri tak pandang bulu. Tak ada sekat untuk santri A dan B.

Prinsip kesataraan di Pesantren juga nampak kentara di forum musyawarah santri. Saat musyawarah, tiap santri mendapat kesempatan bicara. Tidak lihat asal usul sampai status sosial. Peserta musyawarah alias musyawirin berhak bersuara mengurai topik bahasan. Saling adu argumen. Berdebat satu sama lain. Semua diberi panggung yang sama.

Madrasah sebagai lingkungan belajar sudah selayaknya menerapkan kesataraan serupa. Guru sebagai pendidik tak boleh memandang sebelah mata tiap anak didiknya. Akses untuk belajar diberikan secara adil.

Kesetaraan dalam belajar bermula sejak proses penerimaan siswa baru. Setiap siswa dengan segala latar belakangnya disambut untuk belajar di Madrasah. Bila pun ada proses seleksi semata bersifat pemetaan kemampuan dan bakat siswa. Pemetaan ini dimaksudkan agar siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Juga menyalurkan bakatnya dengan tepat. Penerimaan siswa dengan segala keunikannya ini juga meneguhkan prinsip inklusi dalam pembelajaran.

Tim Pagar Nusa MI Ma'arif NU Klesman Borong Prestasi

Sebanyak 11 prestasi sukses ditorehkan tim pagar nusa MI Ma'arif NU Klesman dalam ajang kejurcab pagar nusa ke-VII, pada 27,28 Desember ...